Ujian Online Sebuah Harapan Baru Atau Kekawatiran Baru

Media cetak atau surat kabar, beberapa hari ini, gencar memberitakan adanya Ujian Online untuk menentukan kelulusan sekolah. Ujian Online ini akan diadakan pada bulan April 2015 sekarang ini. Sudah sangat dekat pelaksanaannya, tinggal hitungan jari tangan..

Ada banyak respon akan adanya Ujian yang menggunakan bantuan komputer ini, atau yang sering disebut computer based test(CBT). Ada yang merespon positif ada yang merespon negatif. Masing-masing tentunya dengan alasan dan sudut pandang sendiri- sendiri.

Yang merespon positif berpendapat bahwa dengan adanya Ujian Online yang sudah “dikawal” teknologi telekomunikasi dan teknologi informasi yang mumpuni ini akan membawa proses ujian nasional selangkah lebih maju. Hal tersebut diharapkan mampu mengurangi kecurangan dalam pelaksanaan ujian maupun dalam pelaksanaan penilaian. Pelaksanaan ujian yang bersamaan digadang mampu pula menghilangan adanya kebocoran soal ujian.

Yang merespon negatif mempunyai pendapat bahwa Ujian Online ini ada beberapa kekurangan yang dinilai bisa menyebabkan kerugian pada pihak peserta ujian atau siswa sekolah. Hal ini bisa saja terjadi apabila kesiapan yang dilakukan kurang maksimal. Misalnya saja jika kesiapan koneksi jaringan internet tidak maksimal dan koneksi terputus pada saat ujian tengah berlangsung, bisa sangat merugikan siswa peserta ujian. Atau jika komputer yang dipergunakan tahu tahu tidak berfungsi atau “hang” , maka lagi-lagi siswa yang dirugikan. Belum lagi jika terjadi gangguan suplai tenaga listrik ditempat ujian, bisa kacau.

Pihak Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan akan membuka Pos Pengaduan Ujian Nasional (UN) dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2015 mulai 7 April hingga 30 Agustus 2015. Pos pengaduan diselenggarakan unt10uk mengawal penyelenggaraan pelayanan pendidikan, khususnya pada tahapan ujian nasional online. Pos ini diharapkan mampu untuk mengatasi adanya kecurangan administrasi.

Dengan melihat kondisi diatas, kita masih harus melihat setelah pelaksanaan nanti. Apakah Ujian Online merupakan sebuah harapan baru atau justru sebaliknya jadi kekawatiran baru untuk calon calon peserta ujian dimasa depan.

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

4 thoughts on “Ujian Online Sebuah Harapan Baru Atau Kekawatiran Baru

  1. Saya rasa ujian yang menggunakan sistem komputerisasi sangat riskan. Terbukti beberapa hari ini semenjak dilaksanakan UN ada saja berita yang menyiarkan siswa stress akibat listrik padam atau koneksi internet yang tiba-tiba padam atau bahkan Server yang mendadak rusak. Kalau saran saya sebaiknya pemerintah tidak mengambil keputusan secara mendadak, bila ingin menerapkan sistem komputerisasi untuk UN, jauh-jauh hari harus dipersiapkan lebih matang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *