Sumber Daya Frekuensi Selular adalah Hak Masyarakat Indonesia yang makin menipis

Mungkin banyak pula yang belum menyadari hal ini. Betul. Sumber Daya Frekuensi Selular adalah Hak Masyarakat Indonesia. Frekuensi dipinjamkan kepada operator telepon selular dalam jangka waktu tertentu. Hal tersebut dijelaskan dalam regulasi telekomunikasi, yang dikutip dari Tabloid Pulsa Edisi 264 halaman 38.

Apa itu frekuensi? Spektrum frekuensi adalah gelombang elektromagnetik yang berfungsi menjadi media penghantar sinyal. Frekuensi digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari siaran radio, sambungan telepon, penerbangan, militer, hingga satelit. Berada di udara secara tak kasat mata, alokasi frekuensi diatur oleh sebuah lembaga di bawah PBB bernama International Telecommunication Union (ITU). Lembaga ini yang membagi-bagi jatah alokasi frekuensi bagi setiap negara, termasuk Indonesia. (Sumber Wikipedia)

Lalu bagaimana pemanfaatannya? Pemanfaatannya harus difokuskan pada kepentingan masyarakat Indonesia selaku pengguna layanan operator selular. Frekuensi ini harus di kembangkan dari sisi perluasan jaringan dan pemanfaatan frekuensi yang bijak dan sesuai regulasi.

Frekuensi sendiri saat ini mulai menipis. Permintaan pengguna telekomunikasi terutama telepon seluler yang makin “menggila” membuat kewalahan beberapa operator telepon selular. Sementara sumber daya frekuensi tidak dapat bertambah. Indonesia berada di posisi ke empat di Asia dalam hal pertumbuhan industru seluler. Kita berada dibawah Tiongkok, Jepang dan India.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memiliki data bahwa pada tahun 2006 sampai dengan 2010 pertumbuhan industr seluler telah mencapai 31,9%. Belum lagi Indonesia punya 10 operator telepon selular yang merupakan negara dengan penyelenggara telekomunikasi terbanyak didunia!. Mantap kan?

Melalui website official nya di postel.go.id , Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (Dirjen SDPPI Kemenkominfo) menyampaikan : “ Spektrum Frekuensi Radio merupakan sumber daya alam yang terbatas yang mempunyai nilai strategis dalam penyelenggaraan telekomunikasi dan dikuasi oleh negara. Pemanfaatan Spektrum Frekuensi Radio sebagai sumber daya alam tersebut perlu dilakukan secara tertib, efisien dan sesuai dengan peruntukannya sehingga tidak menimbulkan gangguan yang merugikan.”

Suatu saat kekurangan sumber daya frekuensi ini akan membawa dampak negatif di tengah masyarakat Indonesia jika tidak segera diatasi oleh semua yang terkait disana, termasuk pemerintah dan para operator selular. Berbagi frekuensi dan jaringan telekomunikasi sepertinya ide yang patut dipertimbangkan. Karena berdasarkan Undang Undang Telekomunikasi No 36 tahun 1999 dijelaskan dengan sangat gamblang bahwa tujuan penyelenggaraan telekomunikasi harus ditekankan pada azas manfaat, azas keadilan, dan azas kepastian hukum.

Ada tiga operator yang saat ini sudah berada di “Zona Merah” atau kekurangan sumber daya frekuensi ini. Tiga operator itu adalah Telkomsel, Indosat, dan XL. Sedangkan Three dan Axis masih ada di “Zona Hijau”. Masuknya mereka ke zona – zona tersebut didasarkan pada kebutuhan bandwidth, jumlah pelanggan, efisiensi spektrum, jumlah BTS dan parameter lainnya.

Mari kita manfaatkan hak kita akan frekuensi ini dengan lebih bijak karena sumber dayanya yang makin terbatas.

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

2 thoughts on “Sumber Daya Frekuensi Selular adalah Hak Masyarakat Indonesia yang makin menipis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *