Prangko, dari Alat Pembayaran Biaya Pos yang Tergusur Teknologi Digital

Prangko, sebuah teknologi yang mendukung dunia surat- menyurat, sepertinya sudah dimakan perkembangan teknologi saat ini yang berbasis elektronik. Kita tak lagi mengirimkan surat untuk sahabat. Alasannya terlalu lama dan ribet. Repot. Menghabiskan waktu. Lebih enak pakai SMS atau Media Sosial semacam Facebook, Twitter, dan lain sebagainnya. Menulis surat butuh waktu tersendiri karena tulisan harus bagus kan?

Dengan adanya pergeseran kebudayaan seperti diceritakan diatas, maka dunia surat menyurat memasuki masa- masa suramnya. Satu waktu bisa saja tak akan ada lagi surat yang dikirimkan lewat pos dengan dibubuhi prangko. Hal ini akan menyebabkan prangko juga akan menjadi korban perkembangan teknologi yang demikian cepat. Prangko tak akan lagi dibutuhkan untuk mengirim surat. Riwayatnya akan segera tamat.

Namun demikian, ada hal yang kemungkinan bisa menyelamatkan riwayat prangko di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya. Ternyata ada fungsi lain dari sebuah prangko, yaitu sebagai cara / wahana untuk menyebarkan informasi yang harus diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya informasi tentang budaya alat musik daerah. Saat ini jarang sekali orang Indonesia yang tahu alat musik cangor dari Jambi atau alat musik bambu hitada dari Maluku Utara, kecuali yang berasal dari daerah tersebut. Informasi semacam ini bisa disebarkan lewat prangko.

Selain itu, prangko juga mengemban tugas sebagai ikon kedaulatan Indonesia melalui pengiriman surat atau dokumen ke luar negeri. Tak kurang pula fungsinya sebagai benda filateli yang bernilai investasi. Prangko yang sudah langka sangat mahal harganya. Bisa sampai puluhan juta rupiah.

Belum lagi fungsinya sebagai alat atau media berlatih kesabaran dan ketelitian. Untuk pengoleksi prangko atau yang disebut filatelis, dengan mengumpulkan prangko, rasa teliti dan sabar bisa dilatih dengan cukup baik.

Yang membuat sedih adalah, saat ini jumlah filatelis semakin berkurang. Hal ini juga mempengaruhi penurunan permintaan terhadap prangko.Angkanya cukup mengawatirkan, antara 5 -10 persen tiap tahun. Itu artinya ancaman terhadap riwayat prangko tetap ada kalau kita tidak berbuat sesuatu agar mencegah itu. Berbagai pihak telah mengusahakan menumbuhkan semangat filateli (PT POS, Pemerintah, Perkumpulan Filateli) , namun tanpa campur tangan masyarakat, itu akan sulit dilakukan.

Bisakah kita mendorong semangat ber-filateli lagi saat ini?

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

8 thoughts on “Prangko, dari Alat Pembayaran Biaya Pos yang Tergusur Teknologi Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *