Gerakan Kepanduan di Era Digital

Gerakan Kepanduan atau Pramuka sempat menjadi idola pada tahun 1980an sampai dengan 1990an. Bagaimana kondisinya saat ini, dimana kemajuan teknologi dan life-style sudah jauh berkembang?

Pemikiran diatas sempat mengusik penulis beberapa hari ini. Penulis dulu sempat menjadi aktifis atau penyuka kegiatan yang identik dengan baju coklat tua dan coklat muda ini. Aktif mulai dari Sekolah Dasar ((SD) , Sekolah Menengah Pertama (SMP) , Sekolah Menengah Atas (SMA/SMU) sampai dengan saat kuliah di Perguruan Tinggi.

Pada saat itu, pramuka masih menjadi idola. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dengan ikut setiap kegiatan yang diadakan di sekolah itu. Kita bisa belajar bersosialisasi dengan baik. Belajar ber-empati dengan teman. Belajar bagaimana survive di alam terbuka. Belajar bagaiamana mencintai alam ini.

Saat ini, banyak yang berpikir bahwa kegiatan kepanduan sudah tidak lagi relevan. Untuk apa harus belajar semaphore , toh pakai SMS dan email lebih mudah, atau telepon saja. Kenapa harus belajar sandi atau morse, toh pakai BBM atau WhatsApp lebih mengena. Dunia sudah digital gitu loohh.

Untuk apa belajar bikin tandu dari kayu dan tali, toh telepon ke petugas medis sudah gampang. Lagipula seragamnya dinilai culun banget, ketinggalan jaman. Gak se-keren yang ada di sinetron Ganteng Ganteng Serigala (GGS).

Pendapat tersebut diatas ada benarnya. Tetapi sebenarnya Gerakan Kepanduan atau Pramuka tidak berfokus pada semaphore, morse, sandi, tali temali atau baris berbaris. Pramuka lebih kepada penanaman nilai penghargaan terhadap rasa kebersamaan dan sosial.

Saat nilai empati terhalang oleh Media Sosial Online seperti Fac

ebook, BBM, Twitter, Line, WhatsApp dan lain sebagainya, kegiatan Kepanduan atau Pramuka memberi “rasa” tersendiri bagi life-style kita yang cenderung kurang rasa kebersamaan dan kurang rasa mencintai alam.

Seharusnya kita mampu mendorong Gerakan Kepanduan ata

u Pramuka di era digital ini menuju kesebuah kondisi dimana pramuka menjadi salah satu pilihan yang mewarnai kehidupan generasi kita saat ini. Kita dorong anak-anak kita untuk memanfaatkan Pramuka sebagai media belajar tentang hidup kita yang terus harus bersosialisasi dengan manusia lain dan menghargai alam ini.

Setuju?

pramuka dunia digital 3

Iklas Bakti Bina Bangsa Berbudi Bawa Laksana!! Salam Pramuka!!

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

7 thoughts on “Gerakan Kepanduan di Era Digital

  1. Saya dulu seorang Pramuka dari SD sampai SMA. Memang terasa manfaatnya ketika saya dewasa.

    Hanya saja, mengajak anak-anak untuk menggeluti ke-Pandu-an dewasa ini sangat sulit. Betul Pandu kalah dengan e-book, BBM, Internet dan lain-lain.

    Pertanyaannya mengapa bisa kalah menarik? Mungkin salah satunya karena metode ke-Pramuka-an sendiri yang sudah berabad-abad tidak lagi menarik dan tidak sesuai jaman.

    Memaksakan sesuatu yang tidak menarik tidak akan membuat anak menjadi menyukai hal tersebut.

    Oleh karena itu saya pikir, perlu dilakukan sebuah usaha untuk merumuskan kembali tujuan, pengajaran ke-Pandu-an agar bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman.

    Berbagai macam gadget jangan dianggap sebagai musuh, mungkin harus dipandang sebagai kawan..

    1. mantap pak, pemikirannya jauh kedepan. memang itu yang perlu dipikirkan. bagaimana memperbaharui kegiatan ke-pandu-an agar sesuai dengan perkembangan jaman dan life-style yang terus berubah. makasih idenya pak. 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *