Perang Informasi Digital (bag 1)

Istilah Perang Informasi adalah kegiatan atau keadaan yang melibatkan penggunaan dan pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dalam mengejar keunggulan kompetitif atas lawan. Perang informasi dapat melibatkan pengumpulan informasi taktis, pengamanan informasi, validasi informasi.

Disamping itu, istilah tersebut diatas bisa pula mengacu pada kegiatan penyebaran propaganda atau disinformasi untuk mengacaukan atau memanipulasi pihak lawan. Perang informasi sangat berhubungan erat dengan perang psikologis.

Dikarenakan cenderung ditunjang oleh teknologi informasi dan komunikasi , perang ini cenderung meluas ke Electronic Warfare, Cyber Warfare, Pertahanan Jaringan Komputer.

Meskipun memanfaatkan teknologi, sebenarnya perang informasi berfokus pada aspek yang lebih manusiawi terkait penggunaan informasi, termasuk di antaranya analisis jaringan sosial, analisis keputusan dan aspek manusia yang terkait dengan komando dan pengendalian aliran informasi.

Perang informasi biasanya bersumber pada dua hal, yaitu kepentingan ekonomi dan kepentingan politik.
Perang informasi dapat mengambil banyak bentuk, antara lain pembobolan Akun di dunia maya. Hal ini pernah mencuat beberapa waktu lalu melalui kejadian saling tuduh antara pihak Google dengan Pemerintah Tiongkok beberapa waktu lalu. Peristiwa itu dipicu adanya tuduhan Google akan Pemerintah Tiongkok yang membobol akun email pejabat teras dan pejabat militer Amerika. Hal ini menimbulkan reaksi pemindahan markas perwakilan Google dari Tiongkok ke Hongkong.

Bentuk lain dari perang informasi adalah kegiatan kampanye disinformasi untuk memberikan informasi palsu pada pihak lawan. Disini diharapkan lawan menjadi lengah atau salah arah sehingga bisa dimanfaatkan atau dikalahkan.
Bagaiamana kondisi di Indonesia? Apakah telah terjadi perang informasi? Sangat mungkin sekali di Indonesia telah terjadi perang informasi digital. Beberapa waktu lalu sempat tersiar kabar adanya perentasan atau penyadapan saluran telepon selular ( handphone / cellphone ) milik beberapa petinggi Indonesia. Nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan beberapa pejabat negara masuk didalam daftar saluran telepon yang direntas. Perentas / penyadap kabarnya berasal dari negara yang tak jauh dari Indonesia.

Pentingkah kita memperhatikan hal ini?

Di negara Paman Sam, Angkatan Udara telah memasukkan urusan “Information Warfare” ini dalam ursan resmi mereka sejak tahun 1980an. Bagi mereka perang informasi di dunia maya ini sangat serius. Bahkan menurut meraka, kalau mengabaikan urusan perang informasi digital, pilot yang mati akan lebih banyak. AU Amerika lebih senang melumpuhkan komunikasi strategis musuh dengan menggunakan perangkat lunak dari pada menggunakan bom berdaya ledak tinggi. Strategi ini kabarnya memegang andil dalam perang teluk pertama melawan Irak.

Selama Perang Teluk 1991, hacker Belanda diduga mencuri informasi tentang pergerakan pasukan AS dari komputer Departemen Pertahanan AS dan mencoba untuk menjualnya kepada rakyat Irak. Kabarnya pihak Irak menolak informasi itu karena berpikir itu tipuan.

Pada bulan Januari 1999, komputer milik Amerikan Serikat dilanda serangan terkoordinasi (Moonlight Maze), sebagian di antaranya berasal dari mainframe Rusia. Hal ini tidak dapat dikonfirmasi sebagai serangan cyber Rusia karena prinsip “Non Atribusi”, sebuah prinsip bahwa identitas online di dunia maya tidak mungkin berfungsi sebagai bukti identitas dunia nyata .

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

2 thoughts on “Perang Informasi Digital (bag 1)

  1. perang informasi di Inet juga bisa memicu perang di dunia nyata … seperti hal nya efek kampanye di dunia maya 🙂 … salam kenal mas Darto 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *