Konten Over The Top

Over The Top disebut juga Layanan Aplikasi dan/atau konten Melalui Internet. Atau boleh dikatakan, dengan definisi:  pemanfaatan jasa telekomunikasi melalui jaringan telekomunikasi berbasis protokol internet yang memungkinkan terjadinya layanan komunikasi dalam bentuk pesan singkat, panggilan suara, panggilan video, dan daring percakapan (chatting), transaksi finansial dan komersial, penyimpanan dan pengambilan data, permainan (game), jejaring dan media sosial, serta turunannya.

Over The Top menyangkut penyediaan semua bentuk informasi digital yang terdiri dari tulisan, suara, gambar, animasi, musik, video, film, permainan (game) atau kombinasi dari sebagian dan/atau semuanya, termasuk dalam bentuk yang dialirkan (streaming) atau diunduh (download) dengan memanfaatkan jasa telekomunikasi melalui jaringan telekomunikasi berbasis protokol internet.

Layanan Over-The-Top (disingkat OTT) adalah layanan dengan konten berupa data, informasi atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet. Bisa dikatakan juga layanan OTT ini “menumpang” karena sifatnya yang beroperasi di atas jaringan internet milik sebuah operator telekomunikasi. Beberapa contoh perusahaan yang beroperasi di layanan OTT adalah Facebook, Twitter, Youtube, Viber, dan lain-lain. Perusahaan-perusahaan layanan OTT seperti Whatsapp dan lainnya umumnya tidak memiliki bentuk kerjasama resmi dengan para penyelenggara telekomunikasi.

Dengan sifatnya yang menumpang beroperasi di atas jaringan internet milik sebuah operator telekomunikasi, Layanan OTT menuai kontroversi bagi perusahaan telekomunikasi di Indonesia hingga di tahun 2014. Pemerintah Indonesia juga berniat untuk menetapkan pajak bagi pemain OTT. Alasannya, para operator merugi karena jasa SMS atau telepon semakin jarang digunakan, pelanggan lebih sering berkomunikasi via jaringan data.

Namun, seharusnya operator dan penyelenggara OTT bekerjasama untuk mendukung layanan OTT itu sendiri, sehingga baik operator atau penyelenggara OTT sama sama diuntungkan. Bahkan bisa juga para operator untuk mengembangkan layanan OTT masing-masing. Menurut Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), di tengah gempuran OTT asing semacam Facebook, Skype, Yahoo Messenger, Indonesia harus memproduksi OTT dalam negeri.

Akan sangat menguntungan Indonesia apabilab pemain OTT menempatkan pusat datanya di Indonesia. OTT juga harus mengikuti aturan interkoneksi berbasis biayayang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

4 thoughts on “Konten Over The Top

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *