Masih Diperlukan Pendidikan Literasi Media Sosial Online

Penggunaan internet di Indonesia sekarang ini sudah cukup membanggakan. Sudah banyak Sumber Daya Manusia Indonesia yang telah berhasil memanfaatkan internet untuk hal yang positif yang bermanfaat untuk masyarakat luas. Salah satu yang dimanfaatkan tersebut adalah media sosial online yang sekarang marak, seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Line, WhatApps dan BBM. Tak sedikit yang memperoleh kejayaan dan kekayaan dari media-media “baru” tersebut.

Yang menjadikan prihatin adalah masih banyaknya masyarakat Indonesia yang sudah memanfaatkan atau menggunakan media tersebut diatas yang belum sepenuhnya memahami perkembangan dan etike penggunaan media tersebut. Hal ini bisa menyebabkan kurangnya kemampuan untuk memanfaatkannya secara positif dan produktif. Bahkan hal ini juga bisa membawa yang bersangkutan ke perkara hukum yang menyedihkan.

Pemerintah sudah mengenjot sektor teknologi informasi dan internet dengan program pemasangan akses internet di seluruh wilayah Indonesia. Program ini sudah dicanangkan secara nyata oleh pemerintah yang sedang memerintah sekarang ini. Pada Buku II Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang diterbitkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional tercantum program pencapaian pembangunan ketersediaan internet broadband atau internet pita lebar di seluruh wilayah Indonesia.

Pembangunan sarana fisik tersebut diatas perlu diimbangi dengan adanya pembangunan Sumber Daya Manusia. Utamanya pendidikan literasi media sosial online. Tanpa ini, rasanya akan banyak masyarakat Indonesia yang akan “tersesat dalam sisi kelam” media abad 21 ini. Selama tahun 2014 saja sudah banyak yang terjerat masalah hukum karena kekurangtahuan pada regulasi dan etika dalam ber-media sosial online.

Masyarakat akan terjerumus pada pemahaman yang salah tentang kebebasan mengeluarkan pendapat di media internet. Sebenarnya kebebasan berekspresi sudah diatur dalam beberapa regulasi antara lain Undang Undang no 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Konvensi PBB tentang Hak Asasi Manusia. Disana disampaikan dengan jelas bahwa kebebasan berekspresi tetap harus memiliki batasan.

Rasanya sekarang ini sudah sangat mendesak agar masyarakat secara luas bersama dengan pemerintah menambah gencar pendidikan literasi media sosial online. Tidak bisa hanyak mengandalkan masyarakat saja atau pemerintah saja. Harus keduannya bersinergi.

Masyarakat harus dibuat lebih memiliki kemampuan untuk memilah informasi yang dibutuhkan. Dilain pihak, masyarakat juga harus dibuat “pandai” dalam menyebarkan informasi (membuat status, nge- twit, atau update blog). Harus ada pemahaman mana yang boleh dan tidak. Mana yang benar mana yang salah. Harus ada pengecekan kebenaran informasi / status / twit sebelum di share / retweet.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita punya pengetahuan yang cukup dalam hal regulasi dan etika ber-media sosial online?

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

3 thoughts on “Masih Diperlukan Pendidikan Literasi Media Sosial Online

  1. Setuju mas, masih kurangnya etika bermedsos akan membuat provokasi provokasi yang membaca dan tentu akan menimbulkal perpecahan seperti yang terjadi saat ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *