Mampukah Linux Bersaing dengan Sistem Operasi Berbayar?

Saat ini, di Indonesia hampir 65 persen pengguna komputer menggunakan Sistem Operasi Berbayar atau yang lebih dikenal dengan Software Proprietary. Padahal, kata orang, jika ada produk gratis, pasti orang Indonesia pilih yang gratis. Kenapa? Kalau ada yang gratis kenapa harus bayar. Dananya bisa dipakai untuk yang lain. Hehehehe.

Lho kok untuk Sistem Operasi malah pilih yang bayar? Karena walaupun berbayar biasanya tidak perlu keluar uang. Cukup dengan mencari produk bajakan atau ngopi produk hasil crack punya teman. Sebenarnya hal ini cukup memalukan, tapi karena yang melakukan banyak sekali maka sepertinya dianggap hal yang lumrah. Yang lain saja melakukan crack dan membajak, kenapa saya harus beli. Padahal, misalnya semua tetangga kita melakukan perampok dan penipuan, apakah itu alasan pembenaran kita menipu dan merampok seseorang?

Ini salah satu faktor kenapa Linux susah untuk berkembang. Kalah dengan produk berbayar yang bajakan atau hasil crack. Padahal apa bila kita mau menggunakan produk Linux, kita bisa ikut mendorong tumbuhnya industri software di Indonesia. Dengan menggunakan produk OpenSource semacam Linux, kita pasti butuh aplikasi yang OpenSource juga. Aplikasi seperti ini bisa dikembangkan oleh putra putri bangsa sendiri. Tentunya aplikasi yang dibutuhkan akan sangat banyak dan hal ini akan memicu bisnis perangkat lunak di Indonesia. Industri perangkat lunak di Indonesia saat ini masih dalam kondisi tiarap atau hidup segan mati tak mau. Memprihatinkan.

Disamping itu, sisi keamanan produk OpenSource lebih terjamin karena kita punya kemampuan untuk melihat isi Operating System tersebut. Jadi kita dapat melihat dan mengatur , fasilitas mana saja yang boleh dijalankan dan tidak. Dalam proprietary kita tidak bisa melihat proses yang dikerjakan Sistem Operasi. Apalagi proses saat online ke internet. Sungguh itu sangat berbahaya apabila sistem operasi melakukan proses yang tidak kita ketahui. Kita tak boleh melihat proses apa yang sebenarnya berjalan. Yakinkah kita bahwa salah satu proses tersebut diatas tidak mengirimkan data kita ke server tertentu. Data itu bisa saja sangat pribadi dan berbahaya.

Tapi semua kembali kepada kita sendiri. Mau yang mana. Itu artinya kita yang menentukan apakah Linux sebagai produk OpenSource mampu bersaing atau tidak. Punah atau mampu memberikan arti bagi kemandirian bangsa ini. Mungkin kita belum berpikir tentang industri perangkat lunak di Indonesia saat ini, karena toh itu bukan urusan kita. Tapi bagaimana jika 10-15 kedepan bangsa Indonesia cuma jadi pengguna perangkat lunak dari luar negeri. Indonesia cuma pasar saja. Kemana kemandirian kita sebagai sebuah bangsa?

Posted by Darto from WP for Android – Sony Experia E1

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *