Kurangnya Pengembang Software di Indonesia, sebuah Peluang Dunia Kerja

Banyaknya orang Indonesia yang mempunyai status pengangguran, secara logika, harusnya mengambarkan kondisi bahwa jumlah tenaga kerja sudah jauh melebihi jumlah pekerjaan yang ada. Namun berdasarkan data – data yang berhasil dihimpun, ada beberapa bidang pekerjaan yang kekurangan tenaga kerja. Ada banyak sekali profesi yang masih kurang ideal jumlahnya jika dibanding dengan jumlah orang Indonesia.

Salah satu bidang pekerjaan atau profesi yang masih kekurangan tenaga atau sumber daya manusia adalah pengembang software. Pada beberapa tulisan di media surat kabar mengatakan, rakyat Indonesia berjumlah 270 juta jiwa. Dari sejumlah itu, paling tidak 50% atau 135juta orang sudah menggunakan perangkat komputer atau gadget digital lainnya. Perangkat / gadget tersebut tentu saja membutuhkan software untuk menjalankannya. Mengingat, semua sektor kehidupan dan semua bidang kehidupan membutuhkan software yang handal.

Dari data yang dirilis oleh Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang, lewat media Harian Wawasan tanggal 28 Nopember 2013, Indonesia baru memiliki kurang dari 200.000 pengembang software. Mari kita bandingkan dengan India yang sudah punya 1 juta pengembang software. Kita baru 1/5 nya saja. Sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kebutuhan ini harusnya segera dijawab sesegera mungkin, bila tidak, ada kemungkinan dimasa mendatang Indonesia menjadi sebuah negara yang sangat membutuhkan negara lain dalam bidang software. Atau kalau boleh dikatakan, kita tidak mandiri di bidang software. Kita akan “dikendalikan” oleh bangsa lain yang mungkin saja punya “agenda tersembunyi”. Kita akan kembali menjadi bangsa yang terjajah setelah menyatakan merdeka pada tahun 1945. Mengerikan.

Ini menjadi tanggung jawab semua komponen bangsa Indonesia untuk secepatnya memenuhi standar pengguna software dan pengembang software yang ideal dan seimbang. Ideal dan seimbang, dilihat dari sisi jumlah dan kualitas pengembang software dalam negeri.

Pemerintah bekerja sama dengan sektor swasta akan mampu mendorong bertambahnya jumlah pengembang software lokal. Penguatan dari sisi pendidikan / pelatihan dan penguatan dari sisi apresiasi profesi pengembang masih perlu dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta. Disamping itu, harus segera ditumbuhkan semangat penggunaan software produk dalam negeri. Hal ini juga secara signifikan, pada akhirnya, akan menaikkan jumlah pengembang software dalam negeri.

Dari sisi para penyandang status pengganguran, harus segera memberanikan diri untuk “menceburkan” dirinya ke dalam dunia pengembang software dalam negeri.

Berani?

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

2 thoughts on “Kurangnya Pengembang Software di Indonesia, sebuah Peluang Dunia Kerja

    1. tapi yang benar2 jadi pengembang software masih sangat kurang. Paling tidak tahun 2015 harus ada sekitar 1,2 juta pengembang software di Indonesia, dengan pertimbangan jumlah pengguna perangkat digital di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *