Kebencian Digital atau e-dendam ( Digital Hatred )

Makin berkembangnya teknologi digital, membuat dunia ini semakin sempit dan muncul hal – hal baru. Sesuatu yang baru itu bisa positif dan negatif. Salah satu yang negatif adalah munculnya e-dendam atau ada yang menyebutnya kebencian digital. Sebuah kebencian di era digital.

Buah langsung dari kebencian digital ( Digital Hatred / e-Hate ) adalah munculnya bentuk – bentuk kekerasan melalui media internet atau yang sering disebut Cyber Bullying. Bentuk e-dendam bisa berupa ejekan, penghinaan, intimidasi, atau mempermalukan seseorang atau lembaga melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler. Medianya bisa memanfaatkan e-mail, media sosial, situs / website, atau komentar di forum internet.

Yang harus kita pahami adalah ada perbedaan antara cyber bullying dengan cyber crime, walaupun keduannya tetap merupakan bentuk dari e-Hate. Ada pula yang menyebut bentuk e-hate ini dengan cyber stalking atau cyber harassment. Seperti apa cyber bullying, cyber crime, cyber stalking atau cyber harassment itu akan coba kita bahas pada artikel berikutnya.

Namun yang pasti motivasinya tetap sama yaitu memunculkan kebencian dan kemarahan lewat media digital.

Salah satu bentuk nyata dari kebencian digital atau e-hate ini adalah kasus Flo di Yogyakarta. Masih ingat kan? Selain dipicu oleh kebencian , ciri khas dari e-hate adalah munculnya kebencian digital baru disana. Ibaratnya e-dendam dibalas e-dendam. Kejadian di dunia nyata pada hari Rabu, 27 Agustus 2014 di SPBU Lempuyangan Yogyakarta menjadi pemicu e-dendam di dunia digital / maya melalui akun Path dan akun Twitter. Hal ini dilanjuti dengan proses hukum di dunia nyata.

Dari yang telah kita baca diatas, muncul sebuah pemikiran untuk mencoba meminimalisir e-dendam. Perlu adanya kesadaran bersama untuk menghilangkan e-hate.

Kementerian Luar Negeri pernah melaksanakan sebuah seminar bertema “Ethics, Journalism and Democracy: Taking the hate out of Media and Politics”. Seminar ini sedikit banyak telah ikut andil mengikis e-dendam.

Perlu dipahami bahwa apabila pemanfaatan media internet tidak disikapi secara bijak dan bersungguh- sungguh akan sangat berbahaya. Penyebaran kebencian demikian mudah dan cepat apabila di “siarkan” dengan media internet. Apalagi dengan adanya sifat Anonymous di dunia maya.

Pencerahan kepada masyarakat dan mengembangkan budaya saling menghargai adalah cara yang cukup efektif untuk meredam maraknya e-dendam. Siapa yang harus terlibat? Media, sistem pendidikan, perusahaan, organisasi keagamaan dan masyarakat harus terlibat dan bersinergi.

Dari sisi hukum –pun sebenarnya sudah ada rambu- rambu yang jelas yaitu dengan adanya Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik terutama pada pasal Pasal 28 ayat (2). Disana dijelaskan dengan gamblang bahwa seseorang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), dapat terkena dampak hukum.

Seperti apa dampak hukum dari e-dendam atau kebencian digital ini? Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah). Cukup mengerikan bukan?

Mari berhati-hati, jangan sampai terseret masuk dalam lingkaran dendam di dunia maya yang mengerikan

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

4 thoughts on “Kebencian Digital atau e-dendam ( Digital Hatred )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *