E-polis, Antara Kemudahan dan Legalitas

Akhir akhir ini, sering kali kita ditawari polis asuransi lewat telepon atau handphone. Baik itu asuransi kesehatan atau asuransi jiwa.
Polis jenis elektronik ini menjadi populer karena dinilai lebih mudah dipasarkan. Cukup dengan melakukan transaksi lewat perangkat elektronik, maka polis asuransi bisa dijual / dibeli. Pembayaran juga cukup mudah, cukup dengan menyetujui membeli polis ini lewat telepon tersebut, maka pemyaran akan otomatis lewat kredit card yang dimiliki nasabah tersebut. Gampang. Cepat. Mudah.

Namun ada hal lain yang harus diperhatikan dalam menyikapi adanya tren baru di dunia asuransi ini. Hal itu adalah sisi legalitas dan standar operasional prosedur (SOP) yang harus diketahui oleh nasabah. Harus diakui bahwa mungkin kita yang  sendiri juga belum paham tentang sisi legalitas asuransi online ini. Apakah ini sudah sesuai dengan regulasi Pemerintah? Jika belum hal ini patut mendapat perhatian tersendiri. Pahami regulasi atau legalitas e – polis sebelum kita membeli polis asuransi yang dijual via telepon ini.

Kenapa harus memperhatikan regulasi pemerintah? Karena jika nanti ada permasalahan hukum kita akan dihadapkan dengan regulasi pemerintah, mau atau tidak mau. Jangan sampai setelah kita membeli polis tersebut, kemuadian ada permasalah hukum di belakang hari.

Pihak Otoritas Jasa Keuangan juga sudah melarang metode penawaran seperti itu melalui Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SE-OJK) Nomor 12 /SEOJK.07/2014 tentang Penyampaian Informasi Dalam Rangka Pemasaran Produk Dan Atau Layanan Jasa Keuangan, kecuali jika anda memang membuat pernyataan sebelumnya bahwa anda bersedia mendapat penawaran produk melalui telepon. Hal ini di rilis di website http://www.asuransikita.co.id/blog/mengapa-anda-sebaiknya-menghindari-penawaran-asuransi-melalui-telepon/ (diakses Selasa 28 April 2015 Pukul 08.48 wib ) Setelah sekian lama disosialisasikan, aturan ini resmi berlaku mulai 6 Agustus 2014 mendatang.

Umumnya, berupa produk asuransi kesehatan yang pembayaran preminya melalui kartu kredit tertentu. Yang menjadi masalah adalah mereka tidak menyediakan informasi tertulis tentang produk yang ditawarkan, dalam bentuk brosur atau keterangan tertulis lainnya. Bahkan tidak tersedia juga didalam halaman web yang bersangkutan.

Penawaran yang dilakukan biasanya disertai dengan keterangan bahwa penawaran ini hanya diberikan kepada nasabah tertentu. Kadang kita juga diberitahu bahwa pembicaraan mengenai keterangan produk yang ditawarkan selalu direkam oleh komputer supaya tidak ada manipulasi. Rekaman tersebut katanya bisa didengar ulang bila ‘diperlukan’. Bahwa ada yang memberikan jaminan jika ternyata nasabah merasa tidak cocok dengan produknya, polis yang berisi ketentuan dan batasan layanan produk bisa dikembalikan dan dibatalkan dalam jangka waktu tertentu.

Disini nasabah tidak diberi waktu yang cukup untuk mempelajari layanan, ketentuan dan batasan dari produk asuransi tersebut. Disisi lain ada peraturan dari BI bahwa penyedia jasa/produk asuransi harus menyediakan informasi tertulis kepada calon nasabah yang berisi penjelasan mengenai produk yang ditawarkan.

Posted by Darto from WP for Android Sony E1 .

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

4 thoughts on “E-polis, Antara Kemudahan dan Legalitas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *