Cyber Bullying Menggunakan Teknologi Informasi

Pada awal pembuatannya, Teknologi Informasi dibuat agar mempermudah kita dalam berkomunikasi dengan orang lain yang secara fisik jauh dari kita. Tujuan akhirnya agar mendekatkan yang jauh dan mempererat hubungan dua pihak yang terpisah jarak. Terutama untuk jejaring sosial online, inilah tujuan dibangunnya banyak aplikasinya.

Pada perkembangannya, tujuan tersebut diatas dibelokkan menjadi hal- hal yang negatif. Istilah populernya, jejaring sosial online digunakan untuk melakukan cyber bullying. Contoh praktis dari cyber bullying adalah mencemarkan nama baik seseorang melalui media online seperti facebook, twitter, path, dan lain sebagainya.

Padahal, dari sisi hukum, pelaku cyber bullying sepertinya bisa dijerat dengan hukum pidana sesuai dengan KUHP pasal 310 ayat (1) dan ayat (2) dimana cyber bullying dimasukkan dalam tindakan penghinaan. Ayat (1) berbunyi “barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum…”. Sedangkan ayat (2) berbunyi “jika hal itu dilakuka dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam …..”

Namun, menurut beberapa ahli yang dikutip dari Majalah Chip, pasal tersebut diatas belum bisa diterapkan pada cyber bullying. Ini menyangkut kata “di muka umum”. Untuk itu, biasanya yang dikenakan pada cyber bullying adalah Undang – Undang No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Disana diatur mengenai cyber bullying dengan lebih jelas. Ancamannya juga cukup mengerikan, yaitu maksimal 12 tahun penjara atau denda maksimal 2 milyar rupiah.

Terlepas dari sanksi yang mungkin diterapakan, akan lebih bijaksana apabila kita tidak melakukan cyber bullying melalui media sosial online. Jangan sampai kita mengintimidasi, melecehkan, menghina, atau mencemarkan nama baik seseorang melalui facebook, twitter, path, dan lain sebagainya.

Kewaspadaan kita tidak hanya saat kita membuat status dengan rentetan kata saja tapi juga dengan gambar, suara atau video yang kita unggah ke internet melalui media sosial online. Internet itu ruang publik bukan ruang pribadi. Status, gambar, suara, atau video yang telah kita unggah / upload ke media sosial online itu bisa bersifat langgeng. Walau kita hapus, tetap saja ada kemungkinan unggahan tersebut sudah di copy / di share / di simpan oleh orang lain. Dan itu bisa saja menjadi bukti cyber bullying.

Waspadalah!!

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

2 thoughts on “Cyber Bullying Menggunakan Teknologi Informasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *