Buku Digital atau Buku Elektronik di Tahun 2015 versi e-Sabak

Istilah ini kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia karena menjadi bahasan pada sebuah kementerian yang berencana menggunakan teknologi ini sebagai salah satu alternatif mengembangkan teknologi pendidikan.

Teknologi ini sebenarnya sudah cukup lama, sudah ada sejak tahun 1930. Ya , itu sudah ada sejak 75 tahun yang lalu. Buku tipe ini merupakan publikasi buku-panjang dalam bentuk digital, yang terdiri dari teks, gambar, atau keduanya, dibaca pada komputer atau perangkat elektronik lainnya ini. Jadi tidak lagi menggunakan kertas sebagai media untuk menyajikan konten. Tapi tidak jarang juga yang menyebutnya sebagai “versi elektronik dari buku cetak”.

Penulis sendiri pernah menulis tentang buku bertenaga listrik ini pada dua artikel berjudul Buku Elektronik atau ebook dan Buku Elektronik atau ebook Kelebihan. Silakan klik link tersebut jika ingin tahu lebih banyak tentang Buku Elektronik.

Di negara-nya Barack Obama, pada tahun 2014 28% dari orang dewasa telah membaca e-book, meningkat 5% dari tahun 2013. Sedangkan tingkat kepemilikan perangkat utuk membaca sudah meningkat menjadi 50% pada tahun 2014, dibanding tahun 2013 yang hanya 30%. Jika data ini tetap, maka ditahun 2015 ada kemungkinan tingkat kepemilikan perangkat baca buku digital di negara Paman Sam akan menjadi 70% dengan tingkat baca buku elektronik sekitar 30% atau lebih.

Bagaimana di Indonesia? Kondisinya sangat memprihatinkan. Walau kepemilikan perangkat pembaca buku digital bertipe smartphone in sangat tinggi (ada yang mengatakan sekitar 65%) namun tingkat bacanya dibawah 10%. Bahkan berdasar survey, pembaca buku kertas di Indonesia ini masih sangat rendah. Perbulan orang Indonesia membaca ¼ buku. Itu artinya dalam SATU TAHUN, orang Indonesia rata-rata hanya membaca 3 buku kertas. Bayangkan tingkat baca buku digital.

Tahun 2014 kemarin, Kementerian Pendidikan kembali melemparkan ide untuk menggunakan buku digital untuk mengurangi ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas. Program ini akan dilaksanakan terutama pada daerah perbatasan, daerah terluar dan daerah dengan indeks pembangunan manusia yang rendah.

Namanya cukup populer di telinga bangsa Indonesia, E-Sabak. Bentuknya berupa komputer tablet yang sudah banyak dimiliki oleh anak bangsa. Namun sayangnya penggunaanya justru lebih banyak untuk bermain game dan ber-internet saja. Materi yang nantinya dipasang didalam perangkat tersebut diatas, akan dirancang khusu untuk perangkat tablet E-Sabak.

Teknologi yang mendukungnya pun cukup hebat, antara lain, koneksi satelit VSAT, fixed line, dan selular phone berbasis 3G.

Dibalik teknologi tinggi yang diusung, masih banyak hal yang harus disiapkan oleh pemerintah Indonesia sebelum benar- benar menerapkan buku digital ini. Hal tersebut antara lain kesiapan pengetahuan / knowlegde pada para pengguna E-Sabak antara lain murid sekolah, guru, pihak manajemen sekolah, dan para pimpinan daerah yang akan menjadi tujuan penerapan E-Sabak. Tidak terbayangkan jika ternyata pengguna belum mempunyai pengetahuan yang jelas tentang teknologi yang digunakan.

Disamping itu, kesiapan infrastruktur pendukung juga harus diperhatikan dengan sungguh. Infrastruktur yang dibutuhkan minimal adalah adanya tempat untuk re-charge perangkat buku digital tersebut di sekolah maupun di rumah para pengguna (murid, guru, dll). Akan sangat menyusahkan apabila ternyata di sekolah hanya ada sedikit colokan listrik yang mengakibatkan adanya antrian untuk re-charge perangkat.

Yang tak kalah penting adalah terjaminnya koneksitas internet selama setahun full selama E-Sabak digunakan. Koneksi internet yang “kembang kempis” , mati enggan hidup juga enggak akan membuat susah keberlangsungan program ini.

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

6 thoughts on “Buku Digital atau Buku Elektronik di Tahun 2015 versi e-Sabak

  1. Beda dengan sabakku jaman dulu
    Semoga program ini berjalan dengan lancar dan semakin memudahkan murid untuk belajar dan mengenakkan orangtua.
    Terima kasih pencerahannya
    Salam hangat dari Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *