Berbekal ABDUL CHOLIK menuju titik 64
64 merupakan jumlah tahun yang harus dilalui untuk mencapai usia 64. Bukan angka yang sedikit ataupun angka yang banyak. 
64 akan terasa terlalu sedikit jika diisi dengan penuh cinta bagi keluarga. Juga terlalu sedikit jika dilalui dengan memberi guna dan manfaat untuk orang orang disekitar dan lingkungan sekitar. Tapi 64 itu terlalu bayak jika hanya diisi dengan berpangku tangan. Apalagi jika diisi dengan membuat orang lain sengsara atau menderita.

Terlepas dari dari yang disampaikan diatas, memang tidak gampang untuk mencapai 64. Bisa saja orang bilang kita cukup mengikuti waktu, mengalir sampai waktu terlampaui 64 tahun.

Banyak yang harus dipilih atau diputuskan untuk mencapai 64. Enam Puluh Empat itu sungguh harus diperjuangkan agar menjadi 64 yang bermakna.

Ibarat orang bepergian, banyak bekal yang harus disiapkan. Tujuannya agar bisa mencapai 64 yang penuh arti tanpa kendala yang berarti, ataupun tanpa terhenti ditengah jalan.

Bekalnya cukup unik yaitu ABDUL CHOLIK. Apa itu? Ini penjelasannya.

Arif.  Kearifan tak bisa diukur dari banyaknya tahun yang telah dilalui. Tak bisa pula diukur dari banyaknya uban. Bekal yang satu ini akan sangat bermanfaat dalam mengarungi samudra kehidupan yang sering mendorong kita untuk memilih. Dengan adanya kearifan dalam hati, kesalahan memilih jalan hidup akan dapat diminimalkan.

Bijaksana. Tanpa bekal yang ini, mampukah kita bangkit dari kegagalan? Mampukah kita memaafkan orang lain yang telah berbuat salah? Kebijaksaan harus selalu diasah. Diasah dengan logika dan pengalaman spiritual.

Dermawan. Kemauan berbagi adalah inti dari sifat kedermawanan seseorang. Tanpa berbagi, kita tak nungkin hidup. Mampukah kita mengerjakan semuanya sendiri tanpa pertolongan aorang lain? Mustahil sepertinya.

Ulet. Bekal ini bekal yang wajib harus ada. Terpaan kesulitan dan ribuan rintangan harus dihadapi untuk menuju 64 yang penuh arti. 6400 cobaan bakal menerjang bak banjir bandang mencoba menelan bahtera. Yang tidak ulet akan segera menyerah pada musuh kehidupan.

Luhur. Tingginya keluhuran budi pekerti menjadi bekal tongkat penopang dalam perjalanan menuju titik 64. Ini menjadi pembeda yang jelas antara kehidupan seorang manusia dengan mahluk lain. Bekal ini pemberian Tuhan yang hakiki.

Cinta. Awal dari kebahagiaan manusia adalah cinta. Bahkan awal dari kehidupan itu sendiri adalah cinta Tuhan pada para hambanya, manusia. Cinta yang sudah ada sebelum manusia ada menjadi bibit dari bekal-bekal menuju 64 yang mulia.

Humanis. Siapa yang berani mengatakan rasa kemanusiaan tak penting? Ibarat rasi bintang dimalam hari, rasa kemanusiaan akan menuntun kita pada titik 64. Cahayanya menuntun kita ditengah pekatnya gelap kejahatan dalam hati manusia. Hitam keserakahan akan musnah oleh terang rasa kemanusiaan.

Open Mind. Pengetahuan itu merupakan bahan bakar untuk kendaraan jiwa menuju kebergunaan seorang manusia. Tanpa keterbukaan pikiran terhadap pengetahuan dan hal- hal yang baru, kendaraan itu tak kan berjalan. Dan kita tak akan pernah menapak di titik 64.

Lugas. Mata uang yang berlaku dimana saja adalah kejujuran. Tanpa sifat yang lugas apalah arti kejujuran. Tidak perlu berbelit-belit , cukup dengan apa adanya. Tidak perlu menyimpang kemana-mana, cukup sampaikan mengenai yang pokok-pokok / yang perlu-perlu saja. Untuk mencapai 64 tidak dibutuhkan sesuatu mencolok, tapi yang berguna bagi sesama. Semuanya dipikirkan secara obyektif.

Ikhlas. Bekal kebersihan hati wajib tersedia sebelum sebuah perjalanan dimulai. Ketulusan hati mampu mengantarkan kita menuju 64 yang berarti. Kerelaan kita akan banyak hal akan menambah kenyaman menapak perjalanan hidup. Akan banyak kekecewaan yang berbuntut mandegnya sebuah perjalanan ke titik 64. Kekecewaan itu ibarat pasir hisap yang akan menghentikan gerak langkah kita. Bahkan bisa membuat kita tersedot kedalam sesaknya pasir dan segalanya akan berhenti. Hanya keikhlasan yang akan mengangkat kita kembali sehingga kita dapat terus melangkah. Kerelaan dan kejujuran akan membawa keberuntungan yang berasal dari Tuhan sendiri.

Khas. Mempunyai karakter tersendiri akan membuat kita kuat berdiri dan memeri arti buat sesama sekitar kita. Kalau kita terlalu mainstream dan sama dengan yang lain, kita menjadi tak bermakna. Untuk menjadi bermakna, kita harus punya peran tersendiri. Untuk itulah maka dibutuhkan kekhasan atau keunikan pada diri kita. Kekhasan membuat kita menjadi istimewa karena kita memiliki sesuatu yang tidak miliki orang lain. Kekhususan membuat kuat dan istimewa.

Hal- hal tersebut diatas merupakan bekal kita menuju sebuah titik. Disini titik itu dinamakan titik 64.

 Artikel  ini diikutsertakan pada Giveaway Seminggu:  Road To 64.

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

10 thoughts on “Berbekal ABDUL CHOLIK menuju titik 64

  1. Posting yang menarik gan
    Makasih atas infonya.
    Kunjungi juga blog saya

    Ponsel Update >> eboklik.blogspot.com
    Biodata dan foto artis >> selatberita.blogspot.com

Tinggalkan Balasan ke Agustinus Darto Iwan Setiawan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *