Uang Digital di Hati Masyarakat Indonesia

Sudah pernah pakai uang digital? Belum? Kalau pakai JakCard, Indomaret Card, GazCard, E-Toll Card, Mandiri E-Cash, Flazz BCA, Mega Cash, BRIZZI BRI, atau TapCash? Udah pernah kan? Kalau sudah, maka kita sebenarnya sudah pakai uang digital.

Arti Uang Digital atau e-Money menurut http://id dot wikipedia dot org/wiki/Uang_elektronik yang dinamakan uang digital adalah : “ uang yang digunakan dalam transaksi Internet dengan cara elektronik. Biasanya, transaksi ini melibatkan penggunaan jaringan komputer seperti internet dan sistem penyimpanan harga digital. Electronic Funds Transfer (EFT) adalah sebuah contoh uang elektronik. Uang elektronik memiliki nilai tersimpan (stored-value) atau prabayar (prepaid) dimana sejumlah nilai uang disimpan dalam suatu media elektronis yang dimiliki seseorang. Nilai uang dalam e-money akan berkurang pada saat konsumen menggunakannya untuk pembayaran. E-money dapat digunakan untuk berbagai macam jenis pembayaran (multi purpose) dan berbeda dengan instrumen single purpose seperti kartu telepon.”

Jangan salah sangka, e-money atau uang digital ini ternyata sudah sangat populer di Indonesia. Pada tahun 2010, menurut data Bank Indonesia, sudah ada 26.500.000 transaksi dengan menggunakan uang abad 21 ini. Nilainya pun tidak main – main, tercatat 693 milyar rupiah. Jumlah itu meningkat drastis pada tahun 2011 dengan 28.300.000 transaksi dengan nilai sebesar 700 milyar rupiah. Bisa diprediksi pertumbuhan ditahun 2012 dan tahun tahun setelah itu. Bisa mencapai 1 trilyun lebih!. Angka yang fantastis.

Hal tersebut disebabkan karena masyarakat Indonesia mulai tahu akan keuntungan menggunakan uang digital. Salah satu keuntungan yang pasti adalah sisi kepraktisannya. Coba bayangkan jika kita setiap hari harus melakukan transaksi beli dan jual sekitar 50 juta. Bisa dibayangkan repotnya bawa uang 50 juta di dompet walau dalam pecahan 100 ribu rupiah. Keuntungan yang lain lagi adalah kelebihan pembayaran via uang digital itu bisa dalam pecahan sen. Contohnya, kita harus bayar tagihan senilai 100.955,15 rupiah. Dengan uang tunai pasti kita harus bayar 101.000 rupiah. Ada pembulatan. Tapi dengan uang digital kita bisa bayar dengan nilai yang sama persis.

Diluar hal tersebut diatas, ternyata masih ada lagi faktor pendorong lain, yaitu makin bersemangatnya pihak bank dalam memasarkan kartu e-money ke masyarakat luas. Sekarang ini jarang ada bank yang tidak mempunyai produk e-money. Sungguh kemajuan yang bisa kita banggakan.

Namun yang patut kita sayangkan adalah masing-masing e-money tersebut belum terintegrasi dalam satu semangat untuk mempermudah penggunakan uang digital. Disamping itu perlu adanya regulasi atau payung hukum yang jelas dari pemerintah, agar meningkatkan keamanan dan kenyamanan baik disisi penerbit e-money atau pun pengguna uang digital.

Sudah pakai uang digital? Bagaimana kesan Anda?

Please like & share:

About

> Governance Officer > Blogger from Semarang, Indonesia > (Pingin Jadi) Writer > Lecturer

6 thoughts on “Uang Digital di Hati Masyarakat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *